Komunitas “Arab-Yaman” di Indonesia dan Potret Buram Negara Yaman di Timur Tengah

Populasi warga Arab keturunan Yaman di Indonesia jumlahnya lumayan banyak. Selama ini kadang terjadi mispersepsi orang Indonesia terhadap Yaman. Simak opini Sumanto al Qurtuby.

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, baik Muslim maupun bukan, Yaman (nama resminya: Republik Yaman atau al-Jumhuriyyah al-Yamaniyyah) yang terletak di Asia Barat dan Semanjung Arabia ini dikenal sebagai “negeri para habib dan sayyid” dan leluhur sebagian komunitas Arab Muslim di Indonesia. Banyak umat Islam di Indonesia bahkan mengelu-elukan komunitas sadah (kaum habib dan sayyid) ini karena dianggap sebagai “keturunan” Nabi Muhammad.

Bagaimana menurut Anda?

Klik di sini untuk mengikuti diskusi

Meskipun tentu saja banyak yang baik, toleran, dan nasionalis (seperti Habib Luthfi bin Yahya), sebagian dari mereka sering membuat keonaran di Indonesia dengan menebarkan intoleransi, fitnah, kedengkian, permusuhan, dan kekerasan dengan sesama umat manusia seperti yang dilakukan oleh Rizieq Syihab, Husein Al Habsyi, Zein Al-Kaff, dan baru-baru ini anak muda bernama Bahar Bin Smith.

Saudi Arabien Sumanto al Qurtuby

Penulis: Sumanto al Qurtuby

Di Yaman sendiri, kelompok sayyid ini sangat minor, terbatas, dan sama sekali tidak memiliki pengaruh politik dan ekonomi di negaranya. “Pamor” keagamaan mereka cuma terbatas di beberapa tempat, sebagian besar terkonsentrasi di kota Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan, yang dikenal sebagai “kota sadah”. Di Tarim ini ada para mahasiswa dan santri Indonesia yang belajar tentang aneka ragam studi Islam khususnya di al-Ahqaf University, Rub al-Tarim (Rubat Tarim), Dar al-Zahra, dan Dar al-Musthafa.

Karena sudah eksis sejak abad-abad silam, maka populasi warga Arab-Yaman (khususnya Hadramaut) di Indonesia memang jumlahnya lumayan banyak dan tersebar di berbagai kawasan: Aceh, Palembang, Jakarta, Bogor, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo, Surabaya, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Ambon, dan masih banyak lagi.

Meskipun komunitas ini sudah cukup lama datang di kawasan yang kemudian bernama “Indonesia” tetapi migrasi mereka dari Yaman ke kepulauan ini baru terjadi secara intensif pada abad ke-19 (simak buku klasik L.W.C. van den Berg tentang “koloni Arab Hadrami” di nusantara), ketika ditemukan teknologi “mesin uap” sehingga memudahkan arus migrasi orang-orang Arab ke nusantara.

Bencana

Kemanusiaan Berakhir di Yaman

Lebih dari setengah juta anak-anak di Yaman menderita kelaparan dan malnutrisi. Badan PBB, UNICEF, melaporkan kebanyakan hidup di kawasan yang rentan wabah Kolera tanpa akses layanan kesehatan yang memadai. Wabah Kolera yang mengamuk sejak April 2015 diklaim telah menelan 425.000 korban dan menewaskan 2.135 pasien.

Bencana

Generasi Kelaparan

Bencana kelaparan yang dipicu oleh perang saudara di Yaman menjadi ancaman terbesar buat anak-anak. Saat ini PBB mencatat 537.000 bocah menderita malnutrisi akut dan 1,3 juta anak-anak lain menghadapi kelangkaan pangan. Sejauh ini hanya seperlima pusat bantuan makanan yang masih beroperasi di Yaman.

Bencana

Embargo Tak Berkesudahan

Yaman yang mengimpor 90% bahan pangan kerepotan menjamin pasokan di dalam negeri lantaran terkena embargo ekonomi Arab Saudi. Sejak Maret 2015 Riyadh mengobarkan perang terhadap suku Houthi di utara Yaman. PBB memperkirakan setidaknya 10% dari 23 juta penduduk Yaman hidup di kamp pengungsian.

Bencana

Nyawa Tanpa Harga

Wabah kelaparan akibat embargo terutama dirasakan oleh warga kota Al-Hudaydah. Kota di pesisir Laut Merah itu banyak bergantung dari hasil laut untuk menjamin pasokan pangan. Namun serangan udara yang dilancarkan Arab Saudi dan Amerika Serikat ikut menghancurkan kapal-kapal nelayan. Akibat kelaparan seorang bocah meninggal dunia setiap 10 menit di Yaman.

Bencana

Tanpa Air dan Makanan

Minimnya infrastruktur pengaliran air dan sanitasi memperparah situasi kemanusiaan. Larangan impor bahan bakar juga mengganggu distribusi air dan makanan untuk penduduk di wilayah terpencil. Kelangkaan bahan bakar juga menciptakan masalah kesehatan lantaran kebanyakan rumah sakit bergantung pada bahan bakar solar untuk memproduksi listrik.

Bencana

Korban yang Terlupakan

Perang yang dilancarkan Arab Saudi terhadap suku Houthi yang didukung Iran sejauh ini telah menelan 10.000 korban jiwa. Selain kedua pihak, dua kelompok terror yang berafiliasi dengan ISIS, Anshar al-Syaria dan ISIL-YP, juga ikut meramaikan perang saudara di Yaman. PBB mencatat 1000 bocah meninggal dunia setiap pekan akibat malnutrisi, diare dan infeksi saluran pernafasan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka dulu berkelana ke nusantara, antara lain karena faktor kekeringan, kemiskinan, kelaparan, minimnya lapangan kerja, konflik dan peperangan, dlsb. Hingga kini, Yaman masih dilanda kekerasan dan kelaparan yang membuat negara ini buram, bangkrut, dan berantakan sehingga masuk menjadi salah satu negara termiskin dan terbangkrut di dunia.   

Seperti dijelaskan diatas, di antara orang-orang Arab Yaman yang melancong ke nusantara ada yang mengklaim dari kelompok sadah, asyraf, atau haba’ib, yaitu kelompok yang mengaku sebagai “keturunan” Nabi Muhammad, khususnya dari jalur Ali bin ‘Alawi (sehingga sering disebut Ba’ ‘Alawi) yang merupakan keturunan langsung dari Ahmad bin Isa al-Muhajir yang konon “keturunan” ke-10 Nabi Muhammad (sengaja saya pakai “tanda kutip” karena saya tidak sependapat kalau mereka adalah keturunan nabi. Saya lebih suka menyebut mereka sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib).

Tetapi ada pula yang dari komunitas non-sadah, yaitu kelompok Irsyadi (golongan menengah) dan Qaba’il (kelas rendahan). Dalam sejarahnya, di Yaman, komunitas Irshadi ini sering terlibat konflik dengan kelompok sadah karena “rebutan” otoritas keislaman, konflik atas klaim sebagai “keturuan” nabi, serta perbedaan tafsir atas pemahaman keagamaan (lihat studi Nels Johnson, Islam and the Politics of Meaning in Palestinian Nationalism).   

Politik

Antri Evakuasi

Diplomat dan pekerja asal Cina dengan membawa koper seadanya, antri untuk memasuki kapal perang yang berlabuh di Hodeidah di selatan Yaman. Sedikitnya 225 warga Cina dan dan warga dari 10 negara lainnya termasuk tiga warga Jerman berhasil dievakuasi angkatan laut Cina.

Politik

Kapal Perang

Cina kirimkan kapal perang dari pangkalan angkata laut di Zhoushan di provinsi Zhejiang menuju ke pelabuhan di Aden di selatan Yaman. Kapal perang mendarat di saat yang tepat di pelabuhan yang tepat pula, kata diplomat Cina. Sesaat setelah evakuasi, Aden praktis jatuh ke tangan pemberontak Syiah Huthi.

Politik

Pakistan Juga Kirim Kapal

Pakistan juga kirimkan kapal perang untuk evakuasi warganya untuk keluar dari Yaman. Warga mula-mula diangkut dengan perahu karet untuk memasuki kapal perang yang berlabuh jauh dari pantai. Pakistan bergabung dalam koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi untuk memerangi pemberontak Syiah Huthi yang didukung Iran.

Politik

Mendarat Selamat di Pakistan

Warga Pakistan yang berhasil dievakuasi dari Yaman mendarat dengan selamat di pelabuhan Karachi. Keluarga menyambut gembirra sanak saudaranya yang lolos dari ancaman maut dalam perang sektarian antara kaum Syiah melawan kaum Sunni di Yaman itu.

Politik

Pengungsi Lokal

Warga Yaman terutama anak-anak dan wanita diungsikan dengan truk terbuka membawa barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Mereka hanya dapat menyingkir ke wilayah yang dianggap masih relatif aman dari serangan udara Arab Saudi maupun gempuran pemberontak Huthi dan tentara yang loyal kepada presiden Hadi.

Politik

Naik Pesawat

Warga yang masih punya uang tampak antri di bandar udara Sanaa yang rusak parah dibombardir koalisi Arab. Seperti juga warga asing di negara itu, warga lokal berusaha secepatnya keluar dari Yaman dengan biaya semahal apapun. Yang penting nyawa selamat.

Yaman yang majemuk

Seperti laiknya negara-negara lain di dunia ini, Yaman juga negara majemuk dengan berbagai ragam kelompok etnis, agama, suku, dan faksi politik dan idelogi. Yaman yang berbatasan dengan Oman dan Arab Saudi inibukan hanya dihuni oleh kaum sadah. Bahkan bukan hanya kaum Muslim, kaum Yahudi Yaman (al-Yahud al-Yaman) juga eksis, dimana kaum perempuannya juga mengenakan cadar (burqa atau niqab) sebagaimana laiknya perempuan Muslimah Salafi-Wahabi.

Yaman, khususnya Yaman utara, juga rumah bagi berbagai faksi militan-radikal-Islamis-teroris dari berbagai kelompok, aliran, dan mazhab keislaman. Disinilah sejumlah pentolan Salafi, termasuk pemimpin “almarhum” Laskar Jihad, Ja'far Umar Thalib berserta anak-anak didiknya, dikader dan digembleng spirit jihadisme oleh beberapa ulama militan seperti Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’i, Syaikh Yahya al-Hajuri, atau Syaikh Abdurrahman al-Adeni.

Selanjutnya, Yaman juga dalam sejarahnya menjadi salah satu basis "kaum kiri" terbesar di Timur Tengah, baik mereka yang berideologi-politik dan berhaluan Komunis, Sosialis, maupun Marxis-Leninis. Bahkan Yaman Selatan dulu pernah menjadi "Negara Komunis" sebelum era unifikasi tahun 1990. Sebelum menjadi "Republik Yaman" tahun 1990 yang menggabungkan antara selatan dan utara, kawasan Yaman dibagi menjadi dua: Yaman Selatan (disebut Republik Demokrat Rakyat Yaman) dan Yaman Utara (disebut Republik Arab Yaman). Kelompok kiri pada umumnya bercokol di Yaman Selatan.

Afghanistan

Kejahatan seksual seperti pemerkosaan adalah isu besar di Afghanistan. Menurut undang-undang pelaku pemerkosaan dihukum berat jika terbukti bersalah. Namun pada kenyataannya, kejahatan itu jarang dilaporkan. Terutama karena korban kejahatan seksual menghadapi risiko jauh lebih besar lagi, jika mereka berani melapor.

Republik Afrika Selatan

Negara ini menghadapi banyak masalah, antara lain konflik tak kunjung henti yang juga menyebabkan keadaan ekonominya parah. Posisi kaum perempuan sangat rentan dalam situasi seperti ini, sehingga mereka kerap jadi korban kekerasan. Foto: pasar di ibukota Bangui.

Kolumbia

Kekerasan bersenjata di negara itu menyebabkan tingginya kekerasan seksual terhadap perempuan. Pemerintah Kolumbia berkali-kali dituduh gagal menyelidiki laporan tindak kekerasan seksual. Tindak kriminal itu kerap terjadi terhadap perempuan yang terpaksa mengungsi. Selain itu angka kekerasan domestik juga tinggi. Foto: demonstrasi bagi hak-hak perempuan dan anti kekerasan di Bogota.

Republik Demokrasi Kongo

Menurut studi, diperkirakan lebih dai 400.000 perempuan diperkosa di Republik Demokrasi Kongo tiap tahunnya. Pemerkosaan kerap dijadikan "senjata perang" oleh pihak-pihak yang bertikai. Foto: seorang perempuan menunggu hasil proses pengadilan terhadap 11 tentara yang dituduh melakukan pemerkosaan dan kejahatan terhadap kemanusiaan di kota Baraka.

Irak

Sekjen PBB mengimbau pemerintah Irak untuk melaksanakan resolusi Dewan Keamanan no 1325 (2000) termasuk melatih aparat keamanan untuk membela hak-hak perempuan. Juga melaksanakan program reintegrasi perempuan dan anak-anak yang jadi korban kekejaman ISIS. Foto: sebuah keluarga Yazidi di Ba Adre, Irak. Mereka terpaksa mengungsi akibat sepak-terjang ISIS.

Libya

Korban kekerasan seksual lazimnya tidak mendapat pertolongan. Sebaliknya, korban sering dianggap mencoreng nama keluarga dan komunitas. Ia bisa menghadapi kekerasan serius dari orang-orang yang seharusnya membela, bahkan bisa dibunuh dengan dirajam. Foto: demonstrasi kaum perempuan. Mereka menyatakan, "Tripolis adalah ibukota semua orang Libya, tapi tanpa senjata."

Mali

Sekjen PBB Ban Ki Moon menyerukan kepada pemerintah Mali, merumuskan strategi nasional untuk memerangi kekerasan seksual dan kekerasan lain berdasarkan gender. Pemerintah diimbau untuk bekerjasama dengan badan PBB United Nations Action against Sexual Violence in Conflict, Foto: seorang perempuan pengungsi Mali, di dekat perbatasan dengan Aljazair.

Myanmar

Myanmar diimbau oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon agar melaksanakan agenda reformasi dan ambil langkah konkret untuk menjaga keamanan korban kekerasan seksual akibat konflik etnis, dan menyeret pelakunya ke pengadilan. Foto:seorang perempuan sedang memandang pamflet yang disebarkan partai politik saat kampanye pemilu.

Somalia

Korban pemerkosaan di ibukota Mogadishu menurut Amnesty International, mayoritasnya adalah pengungsi. PBB catat 1.700 kasus pemerkosaan di tempat penampungan pengungsi. Sepertiga korban berusia di bawah 18. Sekitar 70% pelaku adalah pria berseragam. Foto: kaum perempuan yang mengungsi akibat kekerasan dan bencana kekeringan di kamp pengungsi Dadaab.

Suriah

Sejak meletusnya perang saudara di Suriah tahun 2011, aksi kekerasan seksual dan kekerasan gender meningkat. Terutama ISIS praktekan perbudakan seks dan pelecehan kaum perempuan. Banyak warga Suriah yang lari akibat perang, pemboman udara dan kekerasan ISIS ke negara tetangga Turki. Foto: Perempuan dan anak-anak pengungsi Suriah di daerah Suruc, di bagian tenggara Turki.

Karena menjadi rumah berbagai kelompok ideologi-politik inilah, Yaman tidak pernah sepi dan absen dari konflik dan kekerasan. Perang Sipil berkali-kali meletus disini yang menyebabkan korban tak terhingga, baik jiwa maupun harta-benda. Saat ini perang sipil berbagai kelompok politik-agama-ideologi juga sedang berkecamuk, khususnya di Yaman utara. Tak peduli, meskipun sama-sama beretnik / bersuku Arab, mereka saling berperang satu sama lain.  

Bahkan bukan hanya di zaman modern ini. Sejak zaman dulu, Yaman menjadi ajang pertempuran dan penaklukkan berbagai kelompok politik kekuasaan. Dulu, pada awal abad Masehi, Yaman pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Yahudi Himyarite. Kemudian kelompok Kristen datang menaklukkan Yaman, dan belakangan kaum Muslim Arab yang gantian menganeksasi. Sejak itu, beberapa dinasti silih berganti mengontrol Yaman, yang terkuat dan termakmur adalah Dinasti Rasulid. Turki Usmani dan Inggris juga pernah menjajah Yaman. Sebelum Republik Arab Yaman berdiri pada tahun 1962, Kerajaan Yaman Mutawakkiliyah yang berhaluan Syiah Zaidi berdiri di Yaman Utara pasca Perang Dunia I. 

Tema

Kaum radikal Islamis (seperti al-Ishlah atau al-Tajammu' al-Yamani li al-Ishlah), kelompok nasionalis (seperti al-Muktamar al-Sya'abi al-am), dan sosialis-komunis (seperti al-Hizb al-Isytirak al-Yaman), semua beretnik Arab, saling berkelahi, saling bunuh, dan berebut kekuasaan. Ini belum termasuk konflik dan kekerasan berbagai faksi Islam: seperti faksi Sunni dan Syiah Zaidi.

Sejumlah sarjana seperti Tareq Ismael, Victoria Clark, Murray Gart, dan Mark Katz telah mengulas dengan baik sejarah dan perkembangan konflik dan kekerasan antarfaksi ideologi-politik-agama di Yaman, termasuk faksi sosialis-komunis.

Sosial

Harapan di Tempat Kotor

Lokasi pembuangan sampah di pinggir kota pelabuhan Hudaidah di Yaman Barat. Di tempat yang bagi kebanyakaan orang bukanlah tempat tinggal yang layak ini keluarga Ruzaig bernaung.

Sosial

Damai di Gubuk

Di tempat pembuangan sampah ini hidup 18 keluarga. Mereka mengaku merasa jauh lebih aman dibandingkan di kampung halaman mereka di barat laut Yaman, yang kerap menjadi sasaran pemboman pesawat tempur Arab Saudi.

Sosial

Dari Sampah ke Mulut

Sarapan "seadanya": roti, kentang, paprika. Sebelum menyiapkan hidangan, mereka terlebih dahulu harus bersusah payah memilah bahan pangan yang masih layak dikonsumsi dari tumpukan sampah.

Sosial

Masa Kecil dalam Perang

Selain mengais sisa makanan, Ayoub Mohammed Ruzaiq (11 tahun) juga mengumpulkan botol plastik untuk kemudian dijual.

Sosial

Jatah Hidup

Dalam lemari es yang telah rusak ini, keluarga Ruzaiq menyimpan bahan makanan yang mereka temukan di tempat pembuangan sampah.

Sosial

Berserah pada Tuhan

Mohammed Ruzaiq (belakang kiri), yang berusia 67 tahun, mengatakan bahwa ia tidak menginginkan bantuan orang lain. "Kami hanya menginginkan berakhirnya peperangan, malapetaka ini. Setelah itu Tuhan lah yang akan melindungi kami."

Sosial

Tidur dalam Lapar

Tidak jarang keluarga Ruzaiq terpaksa tidur dengan perut kosong. Beralaskan karton atau di tempat tidur gantung mereka merebahkan diri di gubuk beratap plastik.

Sosial

Belum Tampak Akan Berakhir

Kemungkinan Ayoub beserta keluarganya terpaksa masih harus bertahan hidup lebih lama di tempat pembuangan sampah ini. Peperangan masih berkecamuk dan bantuan internasional hampir tidak tersedia bagi Yaman.

Yaman Selatan pernah menjadi satu-satunya negara komunis di seantero Timur Tengah

Yaman Selatan memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1967. Dua tahun kemudian (1969), kaum komunis di bawah payung People's Democratic Union mengontrol negara dan mengimplementasikan Komunisme sebagai ideologi negara.

Pada waktu itu, Yaman Selatan menjadi satu-satunya negara komunis di seantero Timur Tengah mengingat kaum komunis di kawasan lain mulai melemah pengaruhnya sejak dibombardir oleh Amerika dan sekutunya sejak Perang Dunia II. Sebagai Negara Komunis, Yaman Selatan dulu menjalin aliansi dengan Uni Soviet, Republik Rakyat China, Kuba, dan Jerman Timur.

Partai Komunis Yaman (baca: People's Democratic Union) secara resmi berdiri tahun 1961. Pendirinya adalah Abdallah bin Abd al-Razzaq Ba Dhib yang merupakan salah satu pentolan komunis Arab Timur Tengah. Kelak, ketika ia wafat tahun 1976, tonggak partai ini dikendalikan oleh saudaranya Ali Ba Dhib dan kemudian Abu Bakar Ba Dhib.

Pada tahun 1986, Partai Komunis Yaman bersama sejumlah partai dan kelompok kiri lain termasuk Partai Ba'ath bergabung dengan Partai Sosialis Yaman yang berhaluan Marxist-Leninist. Partai Sosialis Yaman (berdiri tahun 1978) merupakan gabungan dari berbagai elemen, partai, dan kelompok politik beraliran kiri, baik di Yaman selatan maupun di Yaman utara. Pendiri Partai Sosialis Yaman adalah Abdul Fattah Ismail yang sangat pro-Soviet.

Ada cukup banyak tokoh dan pentolan kelompok / partai komunis, sosialis atau Marxis-Leninis di Yaman seperti (selain beberapa yang disebutkan di atas) Haidar Abu Bakar al-Attas (pernah ditunjuk oleh Presiden Ali Abdullah Saleh sebagai Perdana Menteri Republik Yaman tahun 1990-94), Muhammad Ghalib Ahmad, Ali Nasser Muhammad, Ali Salim al-Beidh, Ali Saleh Obad, Yasin Said Nu'man, Abdulrahman al-Saqqaf, dlsb.

Perlu diketahui, dalam konteks Timur Tengah, meskipun mereka aktif di parpol atau ormas yang berkaitan dengan Komunis atau Marxis-Leninis, itu bukan berarti bahwa mereka adalah pengikut ateisme seperti umumnya disalahpahami di Indonesia yang gemar menyamakan komunis dengan ateis. Padahal, komunisme dan ateisme adalah dua filosofi dan “pandangan dunia” yang sangat berbeda. Di Timur Tengah, berbagai kelompok mengadopsi komunisme itu semata-mata hanya sebagai strategi, taktik, dan ideologi gerakan perlawanan terhadap kekuasaan atau kekuatan politik tertentu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ateisme.

Hak Asasi Manusia

Keberuntungan Semu

Kendati terinfeksi Kolera, ia masih dianggap beruntung. Pasalnya pria tua ini sempat menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Sanaa. Namun dengan angka korban yang melonjak, klinik dan rumah sakit di Yaman mulai kewalahan menampung pasien.

Hak Asasi Manusia

Banjir Nestapa di Sanaa

Sejak 6 Mei lalu, ketika foto ini dibuat di rumah sakit pemerintah di Sanaa, angka korban Kolera melonjak drastis. Direktur Komite Palang Merah Internasional, Dominik Stillhart, mewanti-wanti terhadap "bencana kemanusiaan" di ibukota. Saat ini sekitar 115 pasien meninggal dunia dalam dua pekan akibat penyakit mematikan tersebut.

Hak Asasi Manusia

Ibukota Perang Saudara

Situasi sanitasi di ibukota mempermudah munculnya wabah penyakit. Sampah dibiarkan mengotori jalanan sejak petugas kebersihan melakukan mogok massal lantaran tunggakan upah. Situasi ini dimanfaatkan penduduk miskin untuk mengais makanan di antara sampah.

Hak Asasi Manusia

Lantai Beralas Karton

Saat ini kondisi kebersihan di klinik dan rumah sakit juga merosot drastis. Banyak pasien yang terpaksa menginap di atas lantai rumah sakit lantaran minimnya tempat tidur. Sebagian menggunakan kardus dan karton sebagai alas.

Hak Asasi Manusia

Fatal buat Anak-anak

Buang air besar dan muntah-munrah biasanya menjadi gejala umum Kolera. Wabah di Yaman ditengarai disebabkan oleh kualitas air yang buruk. Pasien Kolera biasanya diberi asupan cairan yang mengandung gula dan garam. Jika tidak ditangani, wabah Kolera bisa berbuah fatal, terutama pada anak-anak.

Hak Asasi Manusia

Banjir Memperparah Wabah

Sebuah truk sampah berusaha melewati jalan raya di ibukota Sanaa yang terendam banjir menyusul hujan lebat. Banjir di sejumlah wilayah Yaman dan lambatnya reaksi pemerintah mempercepat penyebaran wabah penyakit.

Hak Asasi Manusia

Bantuan Tersendat

Tidak hanya di Sanaa, beberapa kota lain di Yaman juga sibuk menghadang wabah yang kian mengganas. Kementerian Kesehatan menyerukan organisasi internasional agar secepatnya mengirimkan bantuan. Yaman yang remuk oleh konflik bersenjata antara Arab Saudi dan pemberontak Houthi kekurangan tenaga medis dan obat-obatan buat menyelamatkan korban Kolera.

Meskipun tentu saja ada yang sekularis-ateis, tetapi banyak aktivis dan pengikut komunis yang tetap berpegang teguh pada agama Islam, Kristen, atau Yahudi, ketiga kelompok agama yang dulu mengimpor komunisme Soviet ke Timur Tengah: Irak, Mesir, Suriah, Yordania, Libanon, Palestina, Iran, Yaman dan bahkan Arab Saudi. Sebagian kelompok komunis ini tumbang, sebagian bermimikiri menjadi partai dan ormas kiri lain, sebagian berkoalisi dengan partai dan kelompok non-kiri, sebagian lagi masih eksis, meskipun sangat terbatas pengaruh idologi-politiknya.

Penulis Sumanto Al Qurtuby adalah anggota dewan pendiri Nusantara Kita Foundation dan Presiden Nusantara Institute. Ia juga Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi. Ia pernah menjadi fellow dan senior scholar di berbagai universitas seperti National University of Singapore, Kyoto University, University of Notre Dame, dan University of Oxdord. Ia memperoleh gelar doktor (PhD) dari Boston University, Amerika Serikat, di bidang Antropologi Budaya, khususnya Antropologi Politik dan Agama. Ia telah menulis lebih dari 20 buku, ratusan artikel ilmiah, dan ribuan esai popular, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Bukunya yang berjudul Religious Violence and Conciliation in Indonesia diterbitkan oleh Routledge (London & New York) pada 2016. Manuskrip bukunya yang lain, berjudul Saudi Arabia and Indonesian Networks: Migration, Education and Islam, akan diterbitkan oleh I.B. Tauris (London & New York) bekerja sama dengan Muhammad Alagil Arabia-Asia Chair, Asia Research Institute, National University of Singapore.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Tulis komentar Anda di  kolom di bawah ini.

Politik

Damai Tapi Penuh Curiga

Hubungan Iran dan Arab Saudi baru tumbuh sejak kekuasaan Syah Reza Pahlevi dan Raja Khalid. Kedua negara sebelumnya sering direcoki rasa saling curiga, antara lain karena tindakan Riyadh menutup tempat-tempat ziarah kaum Syiah di Mekkah dan Madinah. Perseteruan yang awalnya berbasis agama itu berubah menjadi politis seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah dan Revolusi Islam 1979.

Politik

Revolusi Islam 1979

Raja Khalid awalnya melayangkan ucapan selamat kepada Ayatollah Khomeini atas keberhasilan Revolusi Islam 1979. Tapi hubungan kedua negara memburuk menyusul perang Iran-Irak dan kisruh Haji 1987. Puncaknya Riyadh memutuskan hubungan 1987 ketika Khomeini mengecam penguasa Arab Saudi sebagai "kaum Wahabi yang tidak berperikemanusiaan ibarat belati yang menusuk jantung kaum Muslim dari belakang."

Politik

Perang Iran-Irak 1980

Saat berkobar perang Iran-Irak, Arab Saudi sejak dini telah menyatakan dukungan terhadap rejim Saddam Hussein di Baghdad. Riyadh bahkan memberikan dana sumbangan sebesar 25 milyar US Dollar dan mendesak negara-negara teluk lain menyumbangkan dana perang buat Irak. Untuk menutupi biaya tersebut, Arab Saudi menggenjot produksi minyak mentah, yang kemudian mengakibatkan runtuhnya harga minyak dunia.

Politik

Kisruh Haji 1987

Mengikuti ajakan Khomeini, jemaah Iran setiap tahun berdemonstrasi di Mekkah dan Madinah menentang Israel. Tradisi yang digelar sejak 1981 itu tidak pernah bermasalah, kecuali 1987 ketika polisi memblokade jalan menuju Masjidil Haram. Akibatnya bentrokan tak terelakkan. 402 tewas dan 649 luka-luka. Setelah kedutaannya di Teheran diserbu massa, Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran

Politik

Program Atom Iran, 2000an

Arab Saudi resah terhadap kemampuan militer Iran menyusul munculnya laporan intelijen yang mengungkap ambisi nuklir Teheran. Sejak saat itu Iran dikucilkan. Tapi hingga tercapainya kesepakatan nuklir di Vienna tahun 2015, sikap Arab Saudi tidak berubah. Riyadh menyebut kesepakatan tersebut "sangat berbahaya," dan mengatakan masa depan kawasan akan lebih cerah jika pengaruh Iran dibatasi sebisanya

Politik

Pemberontakan Houthi di Yaman, 2004

Hubungan Iran dan Arab Saudi kembali menegang setelah kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman mengobarkan pemberontakan. Riyadh menuding Teheran mengompori perang bersaudara dan mencampuri urusan dalam negeri Yaman dengan memasok senjata. Iran sebaliknya menuding Arab Saudi menghkhianati perannya sebagai mediator konflik dengan membombardir minoritas Houthi di utara Yaman.

Politik

Perang Suriah, 2011

Dukungan Iran atas rejim Bashar Assad di Suriah sejak lama dianggap duri dalam daging oleh Arab Saudi. Sebab itu Riyadh sejak 2011 aktif memasok senjata buat oposisi Sunni di Suriah. Ironisnya Arab Saudi yang pertama mengecam Assad lantaran "tindakan represif pemerintahannya terhadap demonstrasi anti pemerintah," ujar Raja Abdullah saat itu.

Politik

Tragedi Mina 2015

Bencana memayungi ibadah Haji 2015 ketika lebih dari 400 jemaah Iran meninggal dunia di terowongan Mina akibat panik massa. Iran menuding pemerintah Arab Saudi ikut bertanggungjawab. Riyadh sebaliknya menyelipkan isu bahwa tragedi itu disebabkan jemaah haji Iran yang tak mau diatur. Kisruh memuncak saat pangeran Arab Saudi, Khalid bin Abdullah, mendesak agar Riyadh melarang masuk jemaah haji Iran

Politik

Eksekusi Mati Al-Nimr 2016

Sehari setelah pergantian tahun Arab Saudi mengeksekusi mati 46 terpidana, antara lain Syeikh Nimr al-Nimr, seorang ulama yang aktif membela hak-hak minoritas Syiah yang kerap mengalami represi dan diskriminasi di Arab Saudi. Al-Nimr didakwa terlibat dalam terorisme. Sebagai reaksi Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei melayangkan ancaman, bahwa Saudi akan mendapat "pembalasan tuhan."

Politik

Drama di Libanon

Pada November 2017 Perdana Menteri Libanon Saad Hariri mengumumkan pengunduran diri dari Riyadh, Arab Saudi, dan menyalahkan Iran terkait kebuntuan politik di Beirut. Langkah itu diyakini bagian dari manuver Arab Saudi untuk memprovokasi perang antara Iran dan Hizbullah dengan Israel. Saudi dan Iran berebut pengaruh di Libanon pasca penarikan mundur pasukan Suriah 2005 silam.